Minggu, 22 Mei 2011

Kisah Shahihb Tentang Ibrahim bin Muhammad SAW

Hadits tentang ibrahim putra rasululah saw
حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قُلْتُ لِابْنِ أَبِي أَوْفَى
رَأَيْتَ إِبْرَاهِيمَ ابْنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَاتَ صَغِيرًا وَلَوْ قُضِيَ أَنْ يَكُونَ بَعْدَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيٌّ عَاشَ ابْنُهُ وَلَكِنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr telah menceritakan kepada kami Isma'il saya berkata kepada Ibnu Abu Aufa; \"Apakah kamu mengetahui Ibrahim putra Nabi shallallahu 'alaihi wasallam? Ibnu Abu Aufa menjawab; \"Ibrahim meninggal ketika masih kecil, sekiranya ia ditetapkan sebagai Nabi setelah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, maka ia akan tetap hidup, namun tidak ada Nabi setelah beliau.\"
Shahih Bukhoridalam kitabul adab  Bab man sama bi asmail anbiya

Muhammad SAW Penutup Para Nabi Bag.2


Muhammad SAW Penutup Para Nabi Bag.2

و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بُنْيَانًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ مِنْ زَوَايَاهُ فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ هَلَّا وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلِي وَمَثَلُ النَّبِيِّينَ فَذَكَرَ نَحْوَهُ
Dan telah menceritakan kepadaku Yahya bin Ayyub dan Qutaibah serta Ibnu Hujr mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Ismail yaitu Ibnu Ja'far dari Abdullah bin Dinar dari Abu Shalih As Samman dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: \"Perumpamaanku dengan Nabi-nabi sebelumku adalah seperti orang membangun rumah, lalu disempurnakannya dan dibaguskannya buatannya, kecuali sebuah sudut (belum terpasang) dengan sebuah bata. Maka masuklah orang banyak ke rumah itu. Mereka mulai mengelilinginya dan kagum akan keindahannya. Lalu mereka bertanya; 'Kenapa batu di tempat ini belum dipasang sehingga bangunanmu menjadi sempurna? Maka akulah yang akan memasang atau meletakkan bata itu, aku datang sebagai penutup para Nabi.\" Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Sa'id berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: \"Perumpamaanku dan perumpamaan para nabi…\" lalu perawi menyebutkan seperti hadits di atas. ( shohih Muslim hadits no 4239 )


حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا سَلِيمُ بْنُ حَيَّانَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مِينَاءَ عَنْ جَابِرٍ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلِي وَمَثَلُ الْأَنْبِيَاءِ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى دَارًا فَأَتَمَّهَا وَأَكْمَلَهَا إِلَّا مَوْضِعَ لَبِنَةٍ فَجَعَلَ النَّاسُ يَدْخُلُونَهَا وَيَتَعَجَّبُونَ مِنْهَا وَيَقُولُونَ لَوْلَا مَوْضِعُ اللَّبِنَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنَا مَوْضِعُ اللَّبِنَةِ جِئْتُ فَخَتَمْتُ الْأَنْبِيَاءَ
و حَدَّثَنِيهِ مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ حَدَّثَنَا ابْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا سَلِيمٌ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ وَقَالَ بَدَلَ أَتَمَّهَا أَحْسَنَهَا

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah Telah menceritakan kepada kami 'Affan Telah menceritakan kepada kami Salim bin Hayyan Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Mina dari Jabir dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: \"Perumpamaanku dengan Nabi-nabi sebelumku adalah seperti orang membangun rumah, lalu disempurnakannya buatannya, kecuali sebuah sudut (belum terpasang) dengan sebuah bata. Maka masuklah orang banyak ke rumah itu. Mereka mulai kagum akan keindahannya. Lalu mereka berkata; 'seandainya batu disini sudah dipasang tentu bangunan ini menjadi lebih sempurna.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Maka akulah yang meletakkan atau memasang bata itu, aku datang sebagai Nabi terakhir.\" Dan telah menceritakannya kepadaku Muhammad bin Hatim Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi Telah menceritakan kepada kami Salim melalui jalur ini dengan Hadits yang serupa. Salim berkata; 'disempurnakannya' sebagai ganti dari lafazh 'diperindahnya.' Hadits no 4240 dalam kitab keutamaan ( Fadhoil ) bab Penyebutan Rasululah SAW sebagai penutup para nabi

SIKAP NABI MUHAMMAD SAW TERHADAP NABI BARU


SIKAP NABI MUHAMMAD SAW TERHADAP NABI BARU

Kisah Dua Utusan Musailamah

Dalam kitabnya Al Sunan (Kitab Al Jihad, Bab Ar Rusul hadits no, 2380) Abu Daud meriwayatkan demikian :


Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah Saw berkata pada dua utusan Musailamah, “Apa yang kalian katakan (tentang Musailamah)? Mereka menjawab, “Kami menerima pengakuannya (sebagai nabi)”. Rasulullah Saw mengatakan pada mereka, “Kalau bukan karena utusan-utusan tidak boleh dibunuh, sungguh aku akan memenggal leher kalian berdua”.

Arti “memenggal leher kalian berdua” adalah terjemahan dari lafadz Arabnya, “la-dharabtu a’naaqa-kuma“. Lafadz ini diceritakan juga oleh Ahmad (hadits no. 15420), Al Hakim (2: 155 no. 2632). Ahmad (hadits no. 15420) melaporkan melalui Abdullah bin Mas’ud dengan lafadz “la-qataltu-kumaa”, “aku pasti membunuh kalian berdua”. Versi hadits ini diceritakan kembali oleh kitab-kitab sejarah seperti Al Thabari (Tarikh Al Thabari, Juz 3 Bab Masir Khalid bin Walid) dan Ibnu Katsir (Al Bidayah wa Al Nihayah, Dar Ihya’ Al Turats Al Arabi , tt, Juz 6, hal: 5).

Riwayat-riwayat ini menampilkan ketegasan Rasulullah saw. terhadap orang yang mengakui kenabian Musailamah bahwa beliau akan membunuh atau memenggal leher mereka. Dua utusan ini tidak jadi dihukum karena posisi mereka sebagai utusan yang dijamin keamannya.

Yang jelas, semua versi riwayat dari sumber-sumber primer ini (baik kitab hadits atau kitab sejarah) tidak ditemukan ungkapan yang dapat diartikan “kedua utusan itu oleh nabi ditatapnya” atau “hendak memberikan kesan” dan lain-lain yang mengaburkan ketegasan Rasulullah saw. untuk menghukum-bunuh mereka. Dengan demikian kata-kata dalam buku Sejarah Hidup Muhammad itu tidak lain adalah interpretasi penulisnya atas riwayat yang ada dan bukan kandungan dari riwayat itu sendiri. Cara-cara seperti ini tentu tidak dapat dibenarkan mengingat akan menimbulkan penyesatan opini saat membaca sejarah Nabi saw.

Abu Daud (hadits no. 2381), Al Nasa’i (Al Sunan Al Kubra, 2: 205) dan Al Darimi (Kitab Al Siyar, hadits no. 2391) menceritakan kesaksian Haritsah bin Al Mudharib dan Ibn Mu’ayyiz yang mendapati sekelompok orang dipimpin Ibn Nuwahah di sebuah masjid perkampungan Bani Hanifah, ternyata masih beriman pada Musailamah. Setelah kejadian ini dilaporkan pada Ibn Mas’ud, beliau berkata pada Ibn Nuwahah (tokoh kelompok tersebut), “Aku mendengar Rasulullah saw. dulu bersabda “Kalau engkau bukan utusan, pasti aku akan penggal kamu”, nah, sekarang ini engkau bukanlah seorang utusan”. Maka Ibn Mas’ud menyuruh Quradhah bin Kaab untuk memenggal leher Ibn Nuwahah. Ibn Mas’ud berkata, “Siapa yang ingin melihat Ibn Nuwahah mati, maka lihatlah ia di pasar”. Masjid mereka itupun akhirnya turut dirobohkan(ringkasan dari versi aslinya yang agak panjang).

Pengiriman Semua Pasukan Islam Untuk Menghadapi Romawi dan Sakitnya Rasulullah.

Sejarawan Ibn Ishaq menceritakan, pendakwaan Musailamah di Yamamah dan al-Aswad di Yaman terjadi di akhir tahun 10 H (Ibn Katsir, Sirah An-Nabawiyah, Juz 4, hal 98). Tidak didapati adanya perbedaan diantara ahli sejarah mengenai ini. Adapun kapan tepatnya peristiwa ini terjadi, dapat disimpulkan dari keterangan Ibn Abbas berikut:

“Rasulullah Saw telah mengirimkan pasukan Usamah bin Zaid menuju Syam dan beliau dalam keadaan sakit sehingga tidak sanggup untuk menyuruh Musailamah dan al-Aswad bertaubat atau mengirimkan pasukan untuk memerangi mereka” (Tarikh Al Thabari, Juz 3 Bab Masir Khalid bin Walid)

Di tempat yang sama, keterangan Ibn Abbas ini diperkuat oleh sejarawan muslim paling terkemuka, Ibn Jarir Al Thabari:

“Sungguh telah dikatakan, bahwa kemunculan Musailamah dan orang-orang yang mengaku nabi lainnya terjadi sepulangnya Rasulullah Saw dari Haji Wada’, saat beliau mengalami sakit keras dimana beliau meninggal dunia”

Jelaslah, Nabi saw. tidak mungkin memerangi Musailamah maupun al-Aswad dengan pasukan dari Madinah. Pertama, karena pasukan besar telah diberangkatkan menuju Syam yang rencananya akan menyerang daerah kekuasaan Romawi. Kedua, Rasulullah saw. sendiri sudah menderita sakit keras dimana pada sakit inilah akhirnya beliau meninggal dunia.

Mungkin ada yang mempertanyakan alasan Rasulullah saw. tidak mengirim sisa pasukan di Madinah. Ini dapat dijelaskan melalui ukuran besarnya pasukan Usamah. Menurut sejarawan al-Waqidi,

“Tak tersisa satupun dari kaum muhajirin melainkan mereka bergabung dalam pasukan (Usamah) itu. Diantara mereka ada Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah ibn al-Jarrah”. (Adz-Dzahabi, Tarikh Al Islam, Kitab Sanah Ihdaa Asyr, Bab Khilafah Abi Bakar).

Selain nama-nama ini, al-Waqidi juga menambah nama-nama lain yaitu: Sa’ad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid, Qatadah bin Nu’man dan Salamah bin Aslam (Al Maghazi, Jilid 3 Bab Ghazwatu Usamah). Bergabungnya para tokoh utama sahabat nabi — Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah ibn al-Jarrah, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Sa’id bin Zaid — dalam barisan pasukan Usamah bin Zaid menunjukkan begitu pentingnya ekspedisi militer ini hingga kapasitasnya begitu besar dan para shahabat tua-tua yang senior pun harus juga turun tangan. Komposisi pasukan Usamah ini sangatlah wajar mengingat musuh yang mungkin mereka temui adalah tentara Romawi, pasukan tercanggih di dunia yang dulu pernah mereka hadapi dalam perang Mu’tah.

Kesalahan Haekal makin diperjelas pula saat merujuk pendapat Ibn Khaldun — tokoh sejarawan muslim, peletak dasar-dasar sosiologi modern, penulis kitab”Muqaddimah” yang kelewat kesohor, Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun, wafat tahun 808 H / 1405 M — dalam masterpiece-nya Tarikh Ibn Khaldun, beliau menyebutkan bahwa Rasulullah saw. memerintahkan perang terbuka melawan para nabi palsu:

“Sepulangnya Nabi Saw dari Haji Wada’, beliau kemudian jatuh sakit. Tersebarlah berita sakit tersebut sehingga muncullah Al Aswad Al Anasi di Yaman, Musailamah di Yamamah dan Thulaihah bin Khuwailid dari Bani Asad; mereka semua mengaku nabi. Rasulullah Saw segera memerintahkan untuk memerangi mereka melalui edaran surat dan utusan-utusan kepada para gubernurnya di daerah-daerah dengan bantuan orang-orang yang masih setia dalam keislamannya. Rasulullah Saw menyuruh mereka semua bersungguh-sungguh dalam jihad memerangi para nabi palsu itu sehingga Al Aswad dapat ditangkap sebelum beliau wafat. Adapun sakit keras yang dialami tidak menyurutkan Rasulullah Saw untuk menyampaikan perintah Allah dalam menjaga agamaNya. Beliau lalu menyerukan orang-orang Islam di penjuru Arab yang dekat dengan wilayah para pendusta itu, menyuruh mereka untuk melakukan jihad (melawan kelompok murtad—pen)”. (Abdurrahman Ibnu Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun, Dar Al Kutub Al Ilmiyah: Beirut, Libanon, cet. 1, th. 1992, Jilid 1 hal 474-475).

Nabi-nabi palsu itu tidak lain adalah para oportunis yang mengira sakitnya Rasulullah saw. adalah kesempatan emas untuk menampilkan diri mereka. Ternyata meski Rasulullah saw. sakit dan pasukan tidak cukup tersedia beliau tidak menyerah dalam menyerukan perang terbuka melawan para nabi palsu. Hal ini jauh berbeda dari kesimpulan Dr. Husein Haekal. Keengganan memerangi nabi palsu, disamping tidak ada asasnya dalam sumber-sumber sejarah, malah sebaliknya bertentangan dengan riwayat-riwayat yang ada.

Pasukan Khalifah Abu Bakar ra.

Pada masa Abu Bakar ra., kekisruhan dalam negeri sumbernya ada dua. Yang pertama adalah orang-orang yang menolak membayar zakat, dan kedua adalah para nabi palsu. Dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, Imam Ibn Katsir menulis judul “Fasal Peperangan Abu Bakar melawan Orang-orang Murtad dan Penolak Zakat” (cet. 1 terbitan Dar Al Kutub Al Ilmiyah, Beirut, Libanon: 2001, jilid 6 hal 307). Abu Bakar sampai membentuk sebelas ekspedisi militer untuk menumpas gerakan-gerakan tersebut (Ad-Daulah Al-Umawiyah, Muhammad Al Khudhari, Mansyurat Kulliyah Dakwah Islamiyah, Tripoli,Libya: tt. hal 177-178).

Untuk melihat motif aksi militer yang dilancarkan oleh Abu Bakar ini, kita dengarkan ucapan Abu Bakar sendiri kepada Umar ra. yang mencoba membujuknya untuk tidak memerangi para penolak zakat. Kata Abu Bakar :

“Demi Allah, jika mereka berani menolak menyerahkan seutas tali yang dulunya mereka berikan pada Rasulullah saw., aku pasti akan memerangi mereka karena penolakan ini” (Dikeluarkan oleh Ahmad 1: 11, 19, 35, 2: 35, 4: 8, Al Bukhari hadits no 1561, Muslim Kitab Al Iman hadits no 82, 83 Juz 1 hal 52.)

Kalau perkara seutas tali saja membuat Abu Bakar menggerakkan pasukan militer besar, bagaimana halnya dengan nabi palsu dan pengikutnya?

Jika dua riwayat ini digabungkan, pada intinya Abu Bakar melakukan tindakan militer karena orang tidak mau membayar zakat dan karena ada yang mengaku menjadi nabi. Sikapnya terhadap nabi palsu ini tercermin dari pernyataannya, “dan wahyu sudah tidak turun lagi”. Oleh karena itu, kedua aliran pengacau ini telah dinilai mengingkari Islam. Kesimpulan ini diperjelas oleh pesan Abu Bakar pada Khalid bin al-Walid sebagai panglima yang nantinya sukses membasmi para nabi palsu:

Dari Handzalah bin Ali al-Laitsi ia berkata, “Abu Bakar memerintahkan Khalid bin Al Walid untuk memerangi orang-orang dengan sebab lima rukun Islam. Siapa saja yang menolak salah satunya hendaknya ia diperangi”. (Adz-Dzahabi , Tarikh Al Islam, Kitab Sanah Ihda ‘Asyr Bab Khabar Al Riddah).

Inilah sebab atau motif yang paling tegas dan jelas dari aksi militer di masa Abu Bakar. Keterangan Dr. Haekal dalam bukunya “Abu Bakar ash-Shiddiq” bahwa aksi militer tersebut karena kekhawatiran berkembangnya gerakan disintegrasi, sangat tidak berdasar. Riwayat-riwayat primer tidak ada yang menyebut seperti itu. Malah apa yang kita saksikan disini bertentangan dengan pandangan Haekal sendiri.

Dalam surat yang dibawa oleh para panglima perang itu, Abu Bakar memberikan pesan untuk kaum pemberontak yang akan ditemui pasukan Islam:

“Telah sampai kabar padaku mengenai keluarnya kalian dari agama setelah tadinya mengakui Islam dan mengamalkannya. Dan (karena itu) aku telah mengirimkan untuk kalian panglima perang dengan pasukan yang terdiri dari Muhajirin, Anshar serta orang-orang tabi’in. Aku telah memerintahkan pemimpin pasukan ini supaya tidak memerangi atau membunuh siapapun sebelum ia mengajak kepada ajakan penyeru Allah. Maka, siapa yang memenuhi seruannya, mengakui (Islam), menyerah dan beramal shaleh, dia akan diterima dan akan diberi perlindungan. Adapun bagi yang menolak, aku perintahkan supaya ia diperangi karena penolakannya itu dan dia boleh dibakar dengan api, ditumpas sehabis-habisnya sehingga tidak boleh diterima alasan apapun melainkan alasan Islam”. (Tarikh Ath-Thabari 3: 226, Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun, Abdul Wahab Najjar, Dar Al-Kutub Al-’Ilmiyah, Beirut, Libanon: tt. hal 45-46, Ad-Daulah Al-Umawiyah, Muhammad Al-Khudhari, hal: 177-178)

Jelas sekali, motifnya bukan ancaman keamanan, disintegrasi, agresi, pemberontakan dan lain-lain. Motif peperangan yang dilancarkan Abu Bakar adalah “keluarnya kalian dari agama setelah tadinya mengakui Islam dan mengamalkannya”. Atau, dalam istilah lain : Murtad.

Sikap Para Shahabat Lainnya

Pemberontakan, pembelotan atau separatisme terhadap negara, dalam Islam diistilahkan dengan baghyu. Pelakunya disebut baghi, jamaknya bughaat. Istilah ini ada dalam Al Qur’an, hadits maupun kitab-kitab referensi umat Islam. Allah berfirman,

“Dan kalau salah satu dari mereka memberontak (baghat) pada yang lainnya, maka perangilah yang memberontak (tabghii) itu sampai mereka kembali pada hukum Allah” (Q.S. Al-Hujuraat [49] : 9).

Rasulullah Saw bersabda, “Ammar bin Yasir akan dibunuh oleh kelompok pemberontak (fi’ah baghiyah)”(Muslim Kitab Al Fitan hadits 5194).

Fasal atau bab mengandung judul “ahlul baghyi” dapat ditemukan dalam Subulus Salam 3:266, Nailul Authar 7: 216 dan lain-lain.

Jadi para ulama sudah punya istilah sendiri untuk kaum pemberontak atau agresor yaitu ahlul baghyi. Jika aksi militer Abu Bakar bermotif pembasmian separatisme, maka istilah ini seharusnya ramai disematkan oleh khazanah Islam terhadap orang-orang itu. Nyatanya semua riwayat sepakat menyebut aksi para pemberontak itu sebagai “riddah“. Dan kitab-kitab hadits atau sejarah menamai mereka “ahl ar-riddah” (kaum murtad). Kitab-kitab yang dirujuk oleh tulisan ini juga menggunakan istilah “riddah” atau “ahl ar-riddah” untuk mereka. Tak ada yang mengategorikan mereka sebagai “ahl al-baghyi”.

Mempertegas kesimpulan ini, terdapat fakta-fakta berikut:

1. Sebelas ekspedisi militer yang diresmikan Abu Bakar untuk memerangi kaum murtad itu menunjukkan banyaknya jumlah nabi palsu di masa tersebut. Padahal Rasulullah saw. hanya menyebut dua (atau tiga) nama nabi palsu saja. Mereka adalah Musailamah, Al-Aswad dan (mungkin) Thulaihah. Petunjuk Rasulullah saw. tidak menyebut-nyebut nabi palsu yang lain seperti Sajah, Malik bin Nuwairah, Al-Maghrur, Laqith bin Malik yang juga diperangi oleh tentara Abu Bakar. Ini menunjukkan bahwa fatwa kesesatan atau murtadnya seseorang tidak harus diberikan oleh Nabi saw. saja. Dengan indikasi yang ada, para shahabat telah memvonis orang-orang itu murtad setelah mendakwa diri sebagai nabi pasca-Rasulullah saw. Jadi para shahabat juga berhak memberikan vonis murtad atau kafir kepada orang yang jelas tanda kemurtadan atau kekafirannya.
2. Al-Waqidi menceritakan dalam Al Maghazi-nya (hal: 1121) bahwa Umar, Utsman, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Ubaidah ibn al-Jarrah dan Sa’id bin Zaid mendatangi Abu Bakar untuk membujuknya agar menunda pasukan Usamah yang akan melakukan ekspansi ke Syam dan lebih mementingkan ancaman internal. Mereka berkata, “Wahai Khalifah! Bangsa Arab telah memberontak padamu, sedangkan engkau membiarkan gerakan hal ini menyebar dimana-dimana. Cobalah engkau jadikan pasukan Usamah sebagian menyerangorang-orang murtad di jantung pertahanan mereka.” Riwayat ini menegaskan pandangan shahabat-shahabat senior seperti Umar dan Utsman yang menyebut aksi kaum pengacau itu sebagai riddah ; kemurtadan.
3. Besarnya partisipasi para shahabat dalam berjihad membasmi nabi-nabi palsu, menunjukkan kuatnya dukungan mereka atas sikap Abu Bakar yang tidak mau memberi belas kasihan pada para pemberontak yang dia nilai sebagai kaum murtad. Terkait dengan perang melawan kelompok murtad itu, Ibnu Mas’ud berkata, “Setelah Rasulullah saw. wafat, kami hampir saja binasa kalau saja Allah tidak menganugerahi kami kepemimpinan Abu Bakar” (Tarikh Adz-Dzahabi, Juz 2, Kitab Sanah Ihda ‘Asyr, bab Akhbar ar-Riddah). Setelah Umar gagal membujuk Abu Bakar untuk tidak memerangi para penolak zakat, dia berkata, “Demi Allah, aku melihat Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk melakukan perang dan baru aku tahu, inilah keputusan yang benar”. (Al Bukhari hadits no 1561).

Fakta-fakta diatas mengarahkan kita pada kesimpulan bahwa para shahabat memiliki sikap yang satu terhadap kasus nabi palsu, yaitu:
1. Orang-orang yang mengaku sebagai nabi setelah Rasulullah saw. dan para pengikutnya adalah kelompok yang keluar dari agama atau murtad.
2. Para nabi palsu dan pengikutnya sekalian harus diminta taubat, jika mereka menolak maka mereka harus dihukum mati atau diperangi.
3. Anggapan disintegrasi yang katanya amat dikhawatirkan dari orang-orang murtad, tidak ditemukan pijakannya dalam referensi sejarah Islam.

Dengan demikian jelaslah, pokok persoalan dan pemecahan dari berbagai syubhat sekitar nabi palsu di masa Rasulullah saw. dan Abu Bakar ash-Shiddiq ra. Dengan merujuk pada sumber-sumber primer khazanah Islam sedemikian rupa makin tampaklah kekhilafan Dr. Haekal dalam kedua bukunya tersebut.

Hadits Tentang Kerasnya Sikap Nabi Muhammad SAW Dan Sahabat kepada Nabi Baru Dan Pengikutnya


Hadits Tentang Kerasnya Sikap Nabi Muhammad SAW Dan Sahabat kepada Nabi Baru Dan Pengikutnya
Dalil Kesatu
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو الرَّازِيُّ حَدَّثَنَا سَلَمَةُ يَعْنِي ابْنَ الْفَضْلِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ قَالَ كَانَ مُسَيْلِمَةُ كَتَبَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَقَدْ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَقَ عَنْ شَيْخٍ مِنْ أَشْجَعَ يُقَالُ لَهُ سَعْدُ بْنُ طَارِقٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ نُعَيْمِ بْنِ مَسْعُودٍ الْأَشْجَعِيِّ عَنْ أَبِيهِ نُعَيْمٍ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَهُمَا حِينَ قَرَأَ كِتَابَ مُسَيْلِمَةَ مَا تَقُولَانِ أَنْتُمَا قَالَا نَقُولُ كَمَا قَالَ قَالَ أَمَا وَاللَّهِ لَوْلَا أَنَّ الرُّسُلَ لَا تُقْتَلُ لَضَرَبْتُ أَعْنَاقَكُمَا
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Amr Ar Razi, telah menceritakan kepada kami Salamah bin Al Fadhl dari Muhammad bin Ishaq, ia berkata; dahulu Maslamah pernah menulis surat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ia berkata; telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ishaq dari seorang syekh dari Asyja' yang dipanggil Sa'd bin Thariq, dari Salamah bin Nu'aim bin Mas'ud Al Asyja'i dari ayahnya yaitu Nu'aim, ia berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada mereka berdua ketika beliau membaca surat Musailamah: \"Bagaimana pendapat kalian berdua?\" Mereka berdua berkata; kami mengatakan seperti yang ia katakan. Beliau berkata: \"Demi Allah, seandainya utusan boleh dibunuh niscaya aku akan memenggal leher kalian berdua.\"
 Dalam kitabnya Al Sunan Abu Daud (Kitab Al Jihad, Bab Ar Rusul hadits no, 2380)
Dalil Kedua
قَالَ حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الرَّازِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا سَلَمَةُ بْنُ الْفَضْلِ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ قَالَ حَدَّثَنِي سَعْدُ بْنُ طَارِقٍ الْأَشْجَعِيُّ وَهُوَ أَبُو مَالِكٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ نُعَيْمِ بْنِ مَسْعُودٍ الْأَشْجَعِيِّ عَنْ أَبِيهِ نُعَيْمٍ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ حِينَ قَرَأَ كِتَابَ مُسَيْلِمَةَ الْكَذَّابِ قَالَ لِلرَّسُولَيْنِ فَمَا تَقُولَانِ أَنْتُمَا قَالَا نَقُولُ كَمَا قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ لَوْلَا أَنَّ الرُّسُلَ لَا تُقْتَلُ لَضَرَبْتُ أَعْنَاقَكُمَا
Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Ar-Razi berkata; telah menceritakan kepada kami Salamah bin Al Fadl Al Anshari berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq berkata; telah menceritakan kepadaku Sa'ad bin Thariq Al Asyja'i yaitu Abu Malik, dari Salamah bin Nu'aim bin Mas'ud Al Asyja'i dari Bapaknya, Nu'aim berkata; saya mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam ketika membaca surat Musailamah Al Kadzab, beliau bertanya dua orang utusannya, \"Apa yang kalian komentari tentang suratnya?\" (mereka berdua) berkata; Kami sependapat dengan dia (Musailamah). Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: \"Demi Allah, kalaulah bukan karena pertimbangan seorang utusan tidak boleh dibunuh, pasti saya potong leher kalian berdua\". (Musnad Imam Ahmad hadits no 15420 )
Dalil ketiga
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ حَارِثَةَ بْنِ مُضَرِّبٍ
أَنَّهُ أَتَى عَبْدَ اللَّهِ فَقَالَ مَا بَيْنِي وَبَيْنَ أَحَدٍ مِنْ الْعَرَبِ حِنَةٌ وَإِنِّي مَرَرْتُ بِمَسْجِدٍ لِبَنِي حَنِيفَةَ فَإِذَا هُمْ يُؤْمِنُونَ بِمُسَيْلِمَةَ فَأَرْسَلَ إِلَيْهِمْ عَبْدَ اللَّهِ فَجِيءَ بِهِمْ فَاسْتَتَابَهُمْ غَيْرَ ابْنِ النَّوَّاحَةِ قَالَ لَهُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَوْلَا أَنَّكَ رَسُولٌ لَضَرَبْتُ عُنُقَكَ فَأَنْتَ الْيَوْمَ لَسْتَ بِرَسُولٍ فَأَمَرَ قَرَظَةَ بْنَ كَعْبٍ فَضَرَبَ عُنُقَهُ فِي السُّوقِ ثُمَّ قَالَ مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى ابْنِ النَّوَّاحَةِ قَتِيلًا بِالسُّوقِ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir, telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari Haritsah bin Mudharrib, bahwa ia datang kepada Abdullah dan berkata; tidak ada antara diriku dengan salah seorang Arab permusuhan, dan aku pernah melewati masjid Bani Hanifah, ternyata mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Musailamah. Kemudian Abdullah mengutus utusan kepada mereka, kemudian mereka dihadapkan kepadanya. Lalu ia meminta mereka untuk bertaubat selain Ibnu An Nawwahah. Abdullah berkata kepadanya; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: \"Seandainya engkau bukanlah seorang utusan niscaya aku memenggal lehermu.\" Pada saat ini engkau bukanlah seorang utusan. Kemudian ia memerintahkan Qarazhah bin Ka'bin untuk memenggalnya, lalu ia memenggal lehernya di pasar. Kemudian ia berkata; siapa yang ingin melihat Ibnu An Nawwahah terbunuh di pasar?  (Abu Daud (hadits no. 2381),
Dalil Keempat
أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ ابْنِ مُعَيْزٍ السَّعْدِيِّ قَالَ خَرَجْتُ أُسْفِرُ فَرَسًا لِي مِنْ السَّحَرِ فَمَرَرْتُ عَلَى مَسْجِدٍ مِنْ مَسَاجِدِ بَنِي حَنِيفَةَ فَسَمِعْتُهُمْ يَشْهَدُونَ أَنَّ مُسَيْلَمَةَ رَسُولُ اللَّهِ فَرَجَعْتُ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ فَأَخْبَرْتُهُ فَبَعَثَ إِلَيْهِمْ الشُّرَطَ فَأَخَذُوهُمْ فَجِيءَ بِهِمْ إِلَيْهِ فَتَابَ الْقَوْمُ وَرَجَعُوا عَنْ قَوْلِهِمْ فَخَلَّى سَبِيلَهُمْ وَقَدَّمَ رَجُلًا مِنْهُمْ يُقَالُ لَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُوَاحَةَ فَضَرَبَ عُنُقَهُ فَقَالُوا لَهُ تَرَكْتَ الْقَوْمَ وَقَتَلْتَ هَذَا فَقَالَ إِنِّي كُنْتُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا إِذْ دَخَلَ هَذَا وَرَجُلٌ وَافِدَيْنِ مِنْ عِنْدِ مُسَيْلَمَةَ فَقَالَ لَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَشْهَدَانِ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَا لَهُ تَشْهَدُ أَنْتَ أَنَّ مُسَيْلَمَةَ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ لَوْ كُنْتُ قَاتِلًا وَفْدًا لَقَتَلْتُكُمَا فَلِذَلِكَ قَتَلْتُهُ وَأَمَرَ بِمَسْجِدِهِمْ فَهُدِمَ
Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin 'Ayyasy dari 'Ashim dari Abu Wa`il dari Ibnu Mu'aiz As Sa'di, ia berkata; Pada waktu sahur, aku keluar mencari kudaku, lalu aku melewati suatu masjid diantara masjid-masjid Bani Hanifah. Aku mendengar mereka bersaksi bahwa Musailamah adalah Rasulullah. Aku bergegas kembali menemui Abdullah bin Mas'ud dan mengabarkan kepadanya. Lalu ia mengirimkan beberapa polisi untuk menangkap mereka, Orang-orang itu lalu dihadapkan kepadanya, akhirnya mereka bertaubat dan mencabut perkataan mereka. Setelah Abdullah bin Mas'ud membebaskan mereka, ia mendatangi seseorang yang bernama Abdullah bin Nuwahah dan memenggal kepalanya. Orang-orang berkata kepadanya; \"(Kenapa) anda membiarkan orang-orang itu dan membunuh orang ini?\" Abdullah menjawab; \"Sungguh dahulu aku pernah duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba orang ini dan yang lain masuk sebagai kurir dari Musailamah, beliau lalu berkata kepada mereka berdua: \"Apakah kalian bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?\" Mereka berkata kepada beliau; \"Apakah engkau bersaksi bahwa Musailamah adalah Rasulullah?\" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: \"Aku beriman kepada Allah dan para rasulNya, seandainya aku boleh membunuh utusan, niscaya aku bunuh kalian berdua.\" Oleh karena itulah aku membunuhnya. Ibnu Mas'ud memerintahkan supaya masjid mereka juga dihancurkan.  Sunan Darimi (Kitab Al Siyar, Bab larangan membunuh utusan hadits no. 2391 )